Jumat, 25 Desember 2009

ASKEP KOLESISTISIS


A.Definisi
Kolesistitis adl radang kandung empedu yg mrpkn inflamasi akut dinding kandung empedu disertai nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan panas badan.

Dikenal dua klasifikasi yaitu akut & kronis (Brooker, 2001).
•Kolesistitis Akut adl peradangan dari dinding kandung empedu, biasanya mrpkn akibat dari adanya batu empedu di dlm duktus sistikus, yg scr tiba2 menyebabkan serangan nyeri yg luar biasa (http://www.medicastore.com/).

•Kolesistitis Kronis adl peradangan menahun dr dinding kandung empedu, yg ditandai dg serangan berulang dr nyeri perut yg tajam & hebat(http://www.medicastore.com/).

Etiologi
•Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut, memiliki batu empedu.
•Kadang suatu infeksi bakteri mybbkn tjdnya peradangan.Kolesistitis akut tanpa batu mrpkn penyakit yg serius & cenderung timbul stlh tjdnya:
- cedera,
- pembedahan
- luka bakar
- sepsis (infeksi yg menyebar ke slrh tubuh)
- pykt2 yg parah (t’utama penderita yg menerima makanan lewat infus dlm jangka waktu yg
lama).

•Sblm tiba2 merasakan nyeri luar biasa di perut bgn atas, penderita biasanya tdk menunjukkan
tanda2.
•Kolesistitis kronis tjd akibat serangan b’ulang dr kolesistitis akut, yg mybbkn tjdnya penebalan
dinding kandung empedu & penciutan kandung empedu.
Pd akhirnya kandung empedu tdk mampu menampung empedu.
•Pykt ini lbh sering tjd pd wanita & angka kjdnnya meningkat pd usia diatas 40 thn.
•Faktor resiko tjdnya kolesistitis kronis adl adanya riwayat kolesistitis akut sblmnya
(http://www.medicastore.com/).

Patofisiologi
•Kandung empedu memiliki fungsi sbg tempat menyimpan cairan empedu & memekatkan cairan
empedu yg ada didlmnya dg cara m’absorpsi air & elektrolit.
•Cairan empedu ini adl cairan elektrolit yg dihslkn oleh sel hati.
•Dlm kandung empedu, cairan empedu dipekatkan dg m’absorpsi air.
Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh peningkatan konsentrasi zat2 padat.
•Stasis empedu dlm kandung empedu dpt m’akibatkan supersaturasi progresif, prbhn susunan
kimia & pengendapan unsur tsb.
•Prbhn metabolisme yg disbbkn oleh prbhn susunan empedu, stasis empedu, dpt mybbkn infeksi
kandung empedu (http://www.mamashealth.com/).

Gejala
Timbulnya gejala bisa dipicu oleh makan makanan b’lemak. Gejala bisa berupa:
- Tanda awal dr peradangan kandung empedu biasanya nyeri di perut kanan bgn atas.
- Nyeri b’tambah hebat bila penderita menarik nafas dlm & sering m’jalar kebahu kanan.
- Biasanya tdpt mual & muntah.
- Nyeri tekan perut
- Dlm bbrp jam, otot2 perut sblh kanan mjd kaku.
- Pd mulanya, timbul demam ringan, yg semakin lama cenderung meninggi.
- Serangan nyeri b’kurang dlm 2-3 hari & kmd m’hilang dlm 1 minggu.
- Ggn pencernaan menahun
- Nyeri perut yg tdk jelas (samar2)
- Sendawa.

KOMPLIKASI
-Demam tinggi, m’gigil, peningkatan jlh leukosit & b’hentinya grkn usus (ileus) menunjukkan
tjdnya abses, gangren atau perforasi kandung empedu.
-Serangan yg disertai jaundice menunjukkan bhw saluran empedu tlh t’sumbat sbgn oleh batu
empedu atau oleh peradangan.
-Jika pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan kadar enzim amilase, mgkn tlh tjd
peradangan pankreas yg disbbkan oleh penyumbatan batu empedu pd saluran pankreas
(duktus pankreatikus).

Pemeriksaan penunjang
- CT scan perut
- Kolesistogram oral
- USG perut.
- blood tests (looking for elevated white blood cells)

Penatalaksanaan medis
- Pengobatan yg biasa dilkkn adl pembedahan.
- Kolesistektomi bisa dilkkn mll pembedahan perut maupun mll laparoskopi.
- Penderita yg memiliki resti pembedahan krn kead medis lainnya, dianjurkan utk m’jalani diet
rendah lemak & menurunkan BB.
- Bisa diberikan antasid & obat2 antikolinergik

MANAJEMEN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
•Pengkajian pasien Post operatif (Doenges, 1999) adalah meliputi :
1). Sirkulasi
Gejala : rwyt mslh jantung, GJK, edema pulmonal, pykt vascular perifer, a/ stasis vascular.
2). Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor2 stress multiple, mis financial, hubungan,
gaya hidup.
Tanda : tdk dpt istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
3). Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi utk hipoglikemia/ ketoasidosis) ; malnutrisi (t’masuk obesitas) ; membrane mukosa kering (pembatasan pemasukan / periode puasa pra operasi
4). Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yg kronis/batuk, merokok.
5). Keamanan
Gejala : alergi/sensitive thdp obat, makanan, plester, & larutan ; Defisiensi immune (peningkatan risiko infeksi sitemik & penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker
terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ;
Riwayat penyakit hepatic (efek dr detoksifikasi obat2-an & dpt m’ubah koagulasi) ;
Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : munculnya proses infeksi yg melelahkan ; demam.
6). Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : p’gunaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid,
antidisritmia, bronchodilator, diuretik, dekongestan, analgesic, antiinflamasi,
antikonvulsan a/ tranquilizer & juga obat yg dijual bebas, a/ obat2-an rekreasional.
P’gunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal,yg m’pengaruhi koagulasi & pilihan
anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).

B. Diagnosa kep yg muncul pd pasien post Op meliputi :
1.Pola nafas, tdk efektif b.d neuromuskular, ketdkseimbangan perseptual/kognitif, peningkatan
ekspansi paru, obstruksi trakeobronkial.
2.Prbhn prss pikir b.d prbhn kimia misalnya p’guna-an obat2 farmasi, hipoksia ; lingk terapeutik yg t’batas misalnya stimulus sensori yg berlebihan ; stress fisiologis.
3.Resti thdp kekurangan volume cairan, b.d pembatasan pemasukkan cairan tubuh scr oral,
hilangnya cairan tubuh scr tdk normal, pengeluaran integritas pembuluh darah.
4.Nyeri akut b.d ggn pd kulit, jar & integritas otot, trauma muskuloskletal,
munculnya saluran & selang.
(Doenges,1999).

C. INTERVENSI & IMPLEMENTASI
-Intervensi adl penyusunan rencana tindakan keperawatan yg akan dilaksanakan utk menanggu-langi masalah sesuai dg diagnosa keperawatan (Boedihartono,1994).
-Implementasi adl pengelolaan & perwujudan dari rencana keperawatan yg telah disusun pd tahap perencanaan (Effendi ,1995).

•Intervensi keperawatan pd pasien post Op. (Doenges, 1999) meliputi :
DP 1
Tujuan : menetapkan pola napas yg normal/efektif & bebas dr sianosis a/ tanda2 hipoksia
lainnya.
Kriteria hasil : tdk ada prbhn pd frek & kedalaman p’napasan.

•INTERVENSI
- P’thnkn jln udara ps dg memiringkan kepala, hiperekstensi rahang,aliran udara faringeal oral.
R : m’cegah obstruksi jln napas.
- Auskultasi suara napas.
R : kurangnya suara napas adl indikasi adanya obstruksi oleh mukus a/ lidah & dpt dibenahi dg
m’ubah posisi a/pun p’isapan.
- Observasi frek & kedlman p’napasan, pemakaian otot2 bantu p’napasan, p’luasan rongga dada,
retraksi a/ p’napasan cuping hidung, warna kulit, & aliran udara.
R : utk memastikan efektivitas p’napasan shg upaya m’perbaikinya dpt segera dilkkn.
- Letakkan pasien pd posisi yg sesuai, t’gantung pd kekuatan p’napasan & jns pembedahan.
R : elevasi kepala & posisi miring akan m’cegah tjdnya aspirasi dr muntah, posisi yg benar akan
m’dorong ventilasi pd lobus paru bgn bawah & menurunkan tek pd diafragma.
- Lkkn latihan gerak sesegera mgkn pd pasien yg reaktif & lanjutkan pd periode pascaop.
R : ventilasi dlm yg aktif m’buka alveolus,mengeluarkan sekresi, meningkatkan p’angkutan O2,
m’buang gas anastesi; batuk m’bantu mengelu- arkan sekresi dr sstm p’napasan.
- Lkkn p’isapan lendir jika diperlukan.
R : obstruksi jln napas dpt tjd krn adanya darah a/ mukus dlm tenggorok a/ trakhea.
- Kolaborasi, p’berian O2 sesuai kbthn
R : dilkkn utk meningkatkan a/ memaksimalkan p’ambilan O2 yg akan diikat oleh Hb

DP 2
Tujuan : meningkatkan tingkat kesadaran.
Kriteria hasil : pasien mampu mengenali keterbatasan diri & m’cari smbr bantuan ssi kbthn

INTERVENSI
- Orientasikan kembali pasien scr trs mnrs stlh keluar dr pengaruh anastesi ; nyatakan bahwa operasi tlh selesai dilkkn.
R : krn pasien tlh meningkat kesadarannya, maka dukungan & jaminan akan m’bantu
m’hilangkan ansietas.
- Bicara pd pasien dg suara yg jelas & normal tanpa m’bentak, sadar penuh akan apa yg
diucapkan.
R : tdk dpt ditentukan kpn pasien akan sadar penuh, namun sensori p’dengaran mrpkn
kemampuan yg pertama kali akan pulih.
- Evaluasi sensasi/ p’gerakan ekstremitas & batang tenggorok yg sesuai.
R : pengembalian fungsi stlh dilkkn blok saraf spinal a/ lokal yg b’gantung pd jenis a/ jlh obat yg
digunakan & lamanya prosedur dilkkn.
- Gunakan bantalan pd tepi tmpt tidur, lkkn p’ikat- an jika diperlukan.
R : berikan keamanan bagi pasien selama tahap darurat, m’cgh tjdnya cedera pd kepala &
ekstremitas bila pasien mlkkn perlawanan selama masa disorientasi.
- Periksa aliran infus, selang endotrakeal, kateter, bila dipasang & pastikan kepatenannya.
R : pd pasien yg m’alami disorientasi, mgkn akan tjd bendungan pd aliran infus & sstm pengelua- ran lainnya, t’lepas, a/ t’tekuk.
- Pertahankan lingkungan yg tenang & nyaman.
R : stimulus eksternal mungkin mybbkn abrasi psikis ketika tjd disosiasi obat2-an anastesi yg tlh diberikan.

DP 3
Tujuan : keseimbangan cairan tubuh adekuat.
Kriteria hasil : tdk ada ada tanda2 dehidrasi (TTV stabil, kualitas denyut nadi baik, turgor kulit normal, membran mukosa lembab & pengeluaran urine yg sesuai).

INTERVENSI
- Ukur & catat pemasukan & pengeluaran. Tinjau ulang catatan intra operasi.
R : dokumentasi yg akurat akan m’bantu dlm m’identifikasi pengeluaran cairan/kbthn p’gantian
& pilihan2 yg m’pengaruhi intervensi.
- Kaji pengeluaran urinarius, t’utama utk tipe prosedur op.yg dilkkn.R : mgkn akan tjd
penurunan a/pun p’hilangan stlh prosedur pd sstm genitourinarius & a/ struktur yg b’dekatan
m’indikasikan malfungsi a/pun obstruksi sstm urinarius.
- Pantau TTV.
R : hipotensi, takikardia, peningkatan p’napasan m’indikasikan kekurangan cairan.
- Letakkan pasien pd posisi yg ssi, t’gantung pd kekuatan p’napasan & jns pembedahan.
R : elevasi kepala & posisi miring akan m’cegah tjdnya aspirasi dr muntah, posisi yg benar akan
m’dorong ventilasi pd lobus paru bgn bwh & menurunkan tek pd diafragma
- Periksa pembalut, alat drain pd interval reguler. Kaji luka utk tjdnya p’bengkakan.
R : perdarahan yg b’lebihan dpt mengacu kpd hipovolemia/ hemoragi.
- Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer.
R : kulit yg dingin/lembab, denyut yg lemah m’indikasikan penurunan sirkulasi perifer &
dibthkan utk p’gantian cairan tambahan.

Kolaborasi
- berikan cairan parenteral, plasma ekspander ssi petunjuk. Tingkatkan kcptn IV jika diperlu-
kan.
R : gantikan kehilangan cairan yg tlh didokumentasikan. Ctt waktu p’gantian volume sirkulasi yg
potensial bagi penurunan komplikasi, misalnya ketdkseimbangan.

DP 4
Tujuan : pasien mengatakan bhw rasa nyeri tlh t’kontrol a/ hilang.r
Kriteria hasil : pasien tampak rileks, dpt b’istirahat /tidur & mlkkn pergerakan yg b’arti sesuai
toleransi.
INTERVENSI
- Evaluasi rasa sakit scr reguler, ctt karakteristik, lokasi & intensitas (0-10).
R : sediakan informasi.mengenai kbthn/efektivitas intervensi.
- Ctt munculnya rasa cemas/takut & hub-kan dg lingk & persiapan utk prosedur.
R : perhatikan hal2 yg tdk dik &/atau persiapan inadekuat dpt m’p’buruk p’sepsi pasien akan
rasa sakit.
- Kaji TTV, p’hatikan takikardia, hipertensi & peningkatan p’napasan, bahkan jika pasien
menyangkal adanya rasa sakit.
R : dpt m’indikasikan rs skt akut & ketdknyamanan.
- Berikan info mengenai sft ketdknyamanan.
R : pahami pybb ketdknyamanan.
- Lkkn reposisi sesuai petunjuk, mis semi Fowler; miring.
R : mgkn mengurangi rs sakit & meningkatkan sirkulasi. Posisi semi Fowler dpt mengurangi tegangan otot abdominal & otot punggung, sdgkan miring mengurangi tekanan dorsal.
- Observasi efek analgetik.
R : respirasi mgkn menurun pd p’berian narkotik & mgkn menimbulkan efek2 sinergistik dg zat2
anastesi.
- Kolaborasi, p’berian analgetik iv ssi kbthn.
R : analgetik IV akan dg segera m’cp pusat rasa sakit, lbh efektif dg obat dosis kecil.

D. EVALUASI
Evaluasi adl stadium pd prss kep dimana taraf keberhasilan dlm p’capaian tuj kep dinilai & kbthn utk memodifikasi tuj a/ intervensi kep ditetapkan (Brooker, 2001).
Evaluasi yg dihrpkan pd pasien post Op meliputi :
1. Menetapkan pola napas yg normal/efektif & bbs dr sianosis a/ tanda2 hipoksia lainnya.
2. Meningkatkan tingkat kesadaran.
3. Keseimbangan cairan tubuh adekuat.
4. Pasien mengatakan bhw rasa nyeri tlh t’kontrol a/ hilang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar