Senin, 21 Desember 2009

ASKEP DIABETES MELLITUS


1. Pengertian
- DM adl penyakit kronis yg kompleks yg m’akibat-kan ggn met KH, protein, lemak & b’kembang mjd komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler & neuro-logis. (Barbara C. Long)
-DM adl suatu penyakit kronis yg menimbulkan ggn multi sistem & mpy karakteristik hyperglikemia yg disebabkan defisiensi insulin a/ kerja insulin yg tdk adekuat. (Brunner & Sudart)
-DM adl kead hyperglikemia kronis yg disbbkan oleh faktor lingk & keturunan scr b’sama2, mpy karakteristik hyperglikemia kronis tdk dpt disem-buhkan tetapi dpt dikontrol (WHO).
-DM adl kumpulan gjl yg timbul pd seseorang akibat peningkatan kadar glukosa darah yg disebabkan oleh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2002)

2. Etiologi
Etiologi dari DM tipe II sampai saat ini blm diketahui dg pasti.
Dari studi-studi eksperimental & klinis diketahui DM adl mrpkn suatu sindrom yg mybbkan kelainan yg b’beda-beda dg lbh dari satu pybb yg m’dasarinya.


•Bbrp faktor yg sering dianggap pybb yaitu :
a. Faktor genetik
Riwayat keluarga dg diabetes :Pincus & White b’pendpt p’bandingan keluarga yg m’derita DM dg kes keluarga sehat, t’nyata angka kesakitan keluarga yg m’derita DM mcp 8, 33 % & 5, 33 % bila dibandingkan dg keluarga sehat yg m’perlihatkan angka hanya 1, 96 %.

b. Faktor non genetik
1.)Infeksi
Virus dianggap sbg “trigger” pd mereka yg sdh mpy predisposisi genetic thdp DM.
2.)Nutrisia.
Obesitas dianggap mybbkan resistensi thdp insulin.b.)Malnutrisi proteinc.)Alkohol, dianggap menambah resiko tjdnya pankreatitis.
3.)Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar & emosi biasanya mybbkan hyperglikemia sementara.
4.)Hormonal
Sindrom cushing krn konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali krn jlh somatotropin meninggi, feokromositoma krn konsentrasi glukagon dlm darah tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat

3. Klasifikasi
B’dsrkan klasifikasi dr WHO (1985) dibagi bbrp type yaitu :
a. DM type I, Insulin Dependen Diabetes Mellitus (IDDM), klien t’gantung pd p’berian insulin utk m’cegah tjdnya ketoasidosis & m’pertahankan hidup. Pd anak a/ usia muda dpt disbbkan krn keturunan.

b. DM type II, Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus (NIDDM), t’bagi 2 yaitu :
1.)Non obesitas
2.)Obesitas
Disbbkan krn kurangnya produksi insulin dari sel beta pankreas, tetapi biasanya resistensi aksi insulin pd jaringan perifer.
Biasanya tjd pd orang tua (umur lbh 40 thn) a/ anak dg obesitas.

c. DM type lain
1.) Diabetes oleh bbrp sebab seperti kelainan pankreas, kelainan hormonal, diabetes krn obat/zat kimia, kelainan reseptor insulin, kelainan genetik dll.
2.) Obat2 yg dpt mybbkan hiperglikemia a.l :Furasemid, thyasida diuretic glukortikoid, dilantin & asam hidotinik
3.) Diabetes Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi glukosa selama kehamilan, pd pertengahan kehamilan meningkat sekresi hormon pertumbuhan & hormon chorionik somatomamotropin (HCS).

4. Patofisiologi
Sbgn bsr patologi DM dpt dikaitkan dg 1 dr 3 efek utama kekurangan insulin sbb :
(1)Pengurangan p’gunaan glukosa oleh sel2 tbh, dg akibat peningkatan konsentrasi glukosa darah setinggi 300-1200 mg/hari/100 ml.
(2)Peningkatan mobilisasi lemak dr daerah2 penyimpanan lemak, mybbkan kelainan met lemak maupun pengendapan lipid pd dinding vaskuler yg m’akibatkan aterosklerosis.
(3)Pengurangan protein dlm jaringan tubuh.

5. Gambaran Klinik
Gejala yg lazim tjd, pd DM Pd thp awal sering ditemukan :
a.) Poliuri (banyak kencing)Hal ini disbbkn oleh krn kadar glukosa darah meningkat sp melampaui daya serap ginjal thdp glukosa shg tjd osmotic diuresis yg mana gula byk menarik cairan & elektrolit shg klien mengeluh byk kencing.
b.) Polidipsi (banyak minum)Hal ini disbbkn pembakaran t’lalu byk & kehilangan cairan byk krn poliuri, shg utk mengimbangi klien lbh byk minum.
c.) Polipagi (banyak makan)Hal ini disbbkan krn glukosa tdk sp ke sel2 m’alami starvasi. Shg utk memenuhinya klien akan trs mkn. Tetapi walaupun klien byk makan, tetap saja makanan tsb hanya akan berada sp pd pembuluh darah.
d.) Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Disbbkan kehabisan glikogen yg tlh dilebur jadi glukosa, maka tbh b’ush mdpt peleburan zat dr bgn tbh yg lain yaitu lemak & protein, krn tbh terus merasakan lapar, maka tbh slnjtnya akan memecah cadangan makanan yg ada di tbh t’masuk yg b’ada di jar otot & lemak shg klien dg DM walaupun byk makan akan tetap kurus
e.) Mata kaburHal ini disbbkan oleh ggn lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yg disbbkan krn insufisiensi insulin.
Akibat tdpt penimbunan sarbitol dr lensa, shg mybbkan p’bentukan katarak.

6. Diagnosis
Diagnosis DM umumnya dipikirkan dg adanya gjl khas berupa poliuria, polidipsi, poliphagia, lemas & BB menurun.
Jika keluhan & gjl khas ditemukan & pemeriksaan glukosa darah yg lebih 216 mg/dl sdh cukup utk menegakkan diagnosa

7. Penatalaksanaan
Tuj utama penatalaksanaan klien dg DM adl utk m’atur glukosa darah & m’cegah timbulnya komplikasi accut & kronik.

Jika klien b’hasil m’atasi diabetes yg dideritanya, akan t’hindar dari hyperglikemia a/ hypoglikemia.
Penatalaksanaan diabetes t’gantung pd ketepatan interaksi dr 3 faktor; aktifitas fisik, diet & intervensi farmakologi dg preparat hyperglikemik oral & insulin.

•Pd penderita dg DM hrs pantang gula & makanan yg manis utk selamanya.
•3 hal penting yg hrs dip’hatikan pd p’derita DM adl 3 J (jumlah, jadwal & jns makanan) yaitu :
J 1 : jlh kalori ssi dg resep dokter hrs dihabiskan.
J 2 : jadwal makanan hrs diikuti ssi dg jam makan t’daftar.
J 3 : jns makanan hrs dip’hatikan (pantangan gula & makanan manis).

•Diet pd p’derita DM dpt dibagi atas bbrp bgn a.l :
a.) Diet A : t’diri dr makanan yg mengandung KH 50%, lemak 30%, protein 20%.
b.) Diet B : t’diri dr KH 68 %, lemak 20%, protein 12%.
c.) Diet B1 : t’diri dr KH 60%, lemak 20%, protein 20%.
d.) Diet B1 & B 2 diberikan utk nefropati diabetik dg ggn faal ginjal.

•Indikasi diet A :Diberikan pada semua penderita diabetes mellitus pada umumnya.
•Indikasi diet B :Diberikan pd penderita diabetes t’utama yg :
a.) Kurang tahan lapan dg dietnya.
b.) Mpy hyperkolestonemia.
c.) Mpy penyulit mikroangiopati misalnya pernah m’alami cerebrovaskuler accident (cva) pykt jantung koroner.
d.) Mpy penyulit mikroangiopati misalnya tdpt retinopati diabetik tetapi blm ada nefropati yg nyata.
e.)Telah menderita diabetes lebih dari 15 tahun

•Indikasi diet B1
Diberikan pd p’derita diabetes yg memerlukan diet protein tinggi, yaitu penderita diabetes t’utama yg :
a.) Mpy a/ kebiasaan makan tinggi protein tetapi normal lipidemia.
b.) Kurus (underweight) dg relatif body weight kurang dr 90 %.
c.) Masih muda perlu pertumbuhan.
d.) Mengalami patah tulang.
e.) Hamil & menyusui.f. M’derita hepatitis kronis a/ sirosis hepatitis.
g.) M’derita tuberkulosis paru.
h.) M’derita penyakit graves (morbus basedou).
i.) M’derita selulitis.
j.) Dlm keadaan pasca bedah.
Indikasi tsb di atas selama tdk ada kontra indikasi p’gunaan protein kadar tinggi.

•Diet B2
Diberikan pada penderita nefropati dg gagal ginjal kronik yg klirens kreatininnya masih lebar dari 25 ml/mt.
Sifat2 diet B2:
a. Tinggi kalori (lbh dr 2000 kalori/hari tetapi mengandung protein kurang.
b. Komposisi sama dg diet B, (68% KH, 12% protein & 20% lemak) hanya saja diet B2 kaya asam amino esensial.
c. Dlm praktek hanya tdpt diet B2 dg 2100 – 2300 kalori / hari.

•Diet B3
Diberikan pd penderita nefropati diabetik dg gagal ginjal kronik yg klirens kreatininnya kurang dari 25 mI/mt
Sifat diet B3:
a.) Tinggi kalori (lebih dr 2000 kalori/hari).
b.) Rendah protein tinggi asam amino esensial, jlh protein 40 gram/hari.
c.) Karena alasan No 2 maka hanya dpt disusun diet B3 2100 kalori & 2300 / hari. (bila tdk, akan merubah jlh protein).
d.) Tinggi KH dan rendah lemak.
e.) Dipilih lemak yg tdk jenuh.

•Semua penderita DM dianjurkan utk latihan ringan yg dilaksanakan scr t’atur tiap hari pd saat setengah jam sesdh makan.
•Juga dianjurkan mlkkn latihan ringan stp hari, pagi & sore hari dg maksud utk menurunkan BB.
•Penyuluhan kesehatan.
-Utk meningkatkan pemahaman

8. Komplikasi
a. Akut
1.) Hypoglikemia
2.) Ketoasidosis
3.) Diabetik

b. Kronik
1.) Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.
2.) Mikroangiopati mengenai pembuluh darah kecil retinopati diabetik, nefropati diabetic.
3.) Neuropati diabetic

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian pd klien dg ggn sstm endokrin DM dilkkn mulai dr pengumpulan data yg meliputi : biodata, riwayat kes, keluhan utama, sft keluhan, riwayat kes masa lalu, pemeriksaan fisik, pola kegiatan se-hari2

•Hal yg perlu dikaji pd klien dg DM :
a.) Aktivitas dan istirahat
Kelemahan, susah b’jalan/b’gerak, kram otot, ggn istirahat & tidur, tachicardi/tachipnea pd waktu mlkkn aktivitas & koma.
b.) SirkulasiRiwayat hipertensi, pykt jantung seperti IMA, nyeri, kesemutan pd ekstremitas bwh, luka yg sukar sembuh, kulit kering, merah, & bola mata cekung.
c.) EliminasiPoliuri, nocturi, nyeri, rasa t’bakar, diare, perut kembung & pucat
d.) NutrisiNausea, vomitus, BB menurun, turgor kulit jelek.
e.) NeurosensoriSakit kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi, letargi, koma & bingung.
f.) NyeriPembengkakan perut, meringis.
g.) RespirasiTachipnea, kussmaul, ronchi, wheezing & sesak nafas.
h.) KeamananKulit rusak, lesi/ulkus, menurunnya kekuatan umum.
i.) SeksualitasAdanya peradangan pd daerah vagina, serta orgasme menurun & tjd impoten pd pria.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Kekurangan volume cairan tubuh b.d diuresis osmotik.
b. Prbhn status nutrisi kurang dr kbthn tubuh b.d ketdkcukupan insulin, penurunan masukan oral.
c. Resiko infeksi b.d hyperglikemia.

3. Rencana Keperawatan
a.Kekurangan volume cairan tubuh b.d diuresis osmotik.
Tujuan :M’demonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dpt
diraba, turgor kulit & pengisian kapiler baik, haluaran urine tepat scr individu, & kadar
elektrolit dlm batas normal.
Intervensi :
1.) Pantau TTV.
Rasional : Hypovolemia dpt dimanifestasikan oleh hipotensi & takikardia.
2.) Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, & membran mukosa.
Rasional : Mrpkn indikator dr tingkat dehidrasi, atau volume sirkulasi yg adekuat.
3.) Pantau masukan & keluaran.
Rasional : M’berikan perkiraan kbthn akan cairan p’ganti, fungsi ginjal, & keefektifan dari terapi yg diberikan.
4.) Timbang BB stp hari.
Rasional : M’berikan hasil p’kajian yg t’baik dari status cairan yg sdg b’langsung & slnjtnya dlm m’berikan cairan p’ganti.
5.) Berikan terapi cairan ssi indikasi.
Rasional : Tipe & jlh dari cairan t’gantung pd derajat kekurangan cairan & respons pasien secara individual.

b. Prbhn status nutrisi kurang dr kbthn tubuh b.d ketdkcukupan insulin, penurunan masukan oral.
Tujuan :- Mencerna jlh kalori/nutrien yg tepat
- Menunjukkan tingkat energi biasanya- BB stabil a/ b’tambah.
Intervensi :
1.) Tentukan prgrm diet & pola makan pasien & bandingkan dg makanan yg dpt dihabiskan oleh pasien.
Rasional : M’identifikasi kekurangan & penyimpangan dari kbthn terapeutik.
2.) Timbang BB stp hari a/ sesuai indikasi.
Rasional : Mengkaji pemasukan makanan yg adekuat (t’masuk absorbsi & utilisasinya).
3.) Identifikasi makanan yg disukai/dikehendaki t’masuk kbthn etnik/kultural.
Rasional : Jika makanan yg disukai pasien dpt dimasukkan dlm perencanaan makan, kerjasama ini dpt diupayakan stlh pulang.
4.) Libatkan keluarga pasien pd perencanaan makan ssi indikasi.
Rasional : Meningkatkan rasa keterlibatannya; m’berikan informasi pd keluarga utk memahami nutrisi pasien.
5.) Berikan p’obatan insulin scr t’atur ssi indikasi.
Rasional : Insulin reguler memiliki awitan cpt & krn- nya dg cpt pula dpt m’bantu memindahkan glukosa ke dlm sel.


c. Resiko infeksi b.d hyperglikemia.
Tujuan :- M’identifikasi intervensi utk m’cgh/menurunkan resiko infeksi.
- M’demonstrasikan teknik, prbhn gaya hidup utk m’cgh tjdnya infeksi.
Intervensi :
1). Observasi tanda2 infeksi & peradangan.
Rasional : Pasien mgkn masuk dg infeksi yg biasanya tlh m’cetuskan keadaan ketoasidosis a/ dpt m’alami infeksi nosokomial.
2). Tingkatkan upaya utk p’cegahan dg mlkkn cuci tangan yg baik pd semua org yg b’hub dg pasien t’masuk pasiennya sendiri.
Rasional : M’cegah timbulnya infeksi silang.
3). Pertahankan teknik aseptik pd prosedur invasif.
Rasional : Kadar glukosa yg tinggi dlm darah akan mjd media t’baik bagi p’tumbuhan kuman.
4). Berikan perawatan kulit dg t’atur & sungguh2.
Rasional : Sirkulasi perifer bisa t’ganggu yg menempatkan pasien pd peningkatan resiko tjdnya kerusakan pd kulit/iritasi kulit & infeksi.
5). Lkkn prbhn posisi, anjurkan batuk efektif & nafas dlm.
Rasional : M’bantu dlm memventilasi semua daerah paru & memobilisasi sekret.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar